Terkuak.., Tak Ada Perawatan Khusus, Warga Tanjung Hataran Simalungun Tolak Diisolasi

Dibaca: 6195 kali  Senin,06 Juli 2020 | 16:29:04 WIB
Terkuak.., Tak Ada Perawatan Khusus, Warga Tanjung Hataran Simalungun Tolak Diisolasi
Ket Foto :

SIMALUNGUN, (PAB)---

Ratusan warga Nagori (Desa-red) Tanjung Hataran, Kecamatan Bandar Huluan, Kabupaten Simalungun melakukan aksi unjuk rasa damai di RSUD Perdagangan, Senin (6/7/2020) guna memprotes Tim Gugus Tugas Percepatan Penanganan (GTPP) Covid-19 Kabupaten Simalungun dan mempertanyakan kejelasan nasib 17 orang temannya yang sudah sebulan diisolasi di RSUD Perdagangan, Kabupaten Simalungun. Sementara warga menerima kabar bahwa temannya yang diisolasi dalam keadaan sehat walafiat.

Seperti diberitakan sebelumnya, 4 warga Nagori (Desa-red) Tanjung Hataran, Kecamatan Bandar Huluan, Kabupaten Simalungun yang dinyatakan sembuh dari Covid-19 telah dipulangkan setelah menjalani isolasi selama 18 hari di Rumah Sakit Darurat Khusus Covid-19, Batu 20, Kecamatan Panombean Panei.

Namun sepertinya hal ini membuka tabir terkuaknya penanganan pasien positif Covid-19 di Simalungun. Dari penuturan dua warga yang baru dipulangkan tersebut, Yono dan Iwan yang menjelaskan bahwa selama diisolasi, mereka tidak mendapatkan perawatan khusus, bahkan dikatakannya bahwa keadaan kesehatannya selalu stabil.

“Selama kami diisolasi tidak ada perawatan khusus yang kami terima, dan kesehatan kami di sana stabil, setiap hari kami dikasih dua butir vitamin C saja, seharusnya bila warga dibawa ke rumah sakit sudah melebihi 14 hari dipulangkan,” jelas keduanya.

Namun persoalan lain akibat isolasi tersebut, saat ini banyak anak-anak yang terlantar akibat orang tuanya di isolasi. Sementara menurut warga, mereka hanya diberikan beras lima kilo gram saja oleh pemerintah pada keluarga yang ditinggalkan. Sementara kebutuhan yang lain tidak diberikan. Bahkan banyak anak-anak yang tidak bisa mendafar sekolah akibat orangtuanya diisolasi. 

Menurut warga, ada 13 orang lagi yang masih diisolasi di RSUD Perdagangan dan 22 orang di RS Batu 20 dan semuanya dalam keadaan sehat walafiat.

“Warga yang diisolasi semuanya keadaan sehat bang, kalau tak percaya, sama-sama kita Videocall,” katanya sembari menghubungi pasien yang diisolasi, Rianto SE.

Dalam videocall, terlihat Rianto SE sangat sehat saat berbicara, sembari mengatakan ingin pulang.

“Kami disini semuanya sehat-sehat dan ingin segera pulang,” kata Rianto SE.

Sebelumnya Nagori Tanjung Hataran masuk daerah klaster paparan Covid-19 dengan jumlah pasien terbanyak di Kabupaten Simalungun, ada sekitar 40 orang telah dinyatakan positif terpapar Covid-19 dan puluhan orang lainnya berstatus Pasien Dalam Pengawasan (PDP).

Dalam unjuk rasa tersebut, warga berteriak sembari meminta Pemkab Simalungun dan Gugus Tugas Percepatan Penanganan (GTPP) Covid-19 agar tidak menjadikan daerah mereka sebagai percontohan Covid-19.

Warga juga menyatakan tidak yakin dengan kinerja GTPP Covid-19 Simalungun atas penetapan pasien positif Covid-19. Dengan alasan itu warga mendesak Pemkab Simalungun dan GTTP Covid-19 untuk memulangkan setiap orang yang disebut pasien Covid-19.

Tak hanya itu, warga juga meminta agar Gubernur Sumatera Utara Edy Rahmayadi memberikan perhatian pada rakyat Kabupaten Simalungun yang saat ini merasa terzolimi.

“Kami berharap Pak Gubernur Sumatera Utara, Edy Rahmayadi melakukan kebijakan untuk menyelesaikan masalah ini dan meminta agar memberi tindakan terhadap JR Saragih,” sebut warga. (MS/Red)

Akses pab-indonesia.co.id Via Mobile m.pab-indonesia.co.id
Berita Terkait Index »
Tulis Komentar Index »