Polisi Bungkam, Aksi Demo Warga Begulda Berbuntut Teror Penganiayaan

Polisi Bungkam, Aksi Demo Warga Begulda Berbuntut Teror Penganiayaan

Binjai, metro24sumut.com | Aksi unjuk rasa warga Beguldah menuding  Polres Binjai berpihak kepada Mafia Tanah dan Pengusaha Galian C Ilegal ternyata berbuntut pengancaman dan teror aniaya kepada beberapa warga yang telah menjadi korban dan melaporkan kejadian penganiayaan tersebut ke Polres Binjai, tak tanggung-tanggung tindakan penganiayaan dan teror terus menghantui warga korban atas penindasan oknum pengusaha galian C ilegal yang memanfaatkan lahan warga Begulda untuk kepentingan kelompoknya.

Bahkan, Pasca warga Beguldah menggelar aksi unjuk rasa di Pemko Binjai menuntut Galian C Ilegal milik Acong ditutup, pada Rabu (11/1/23) kemarin, kini serangan penganiayaan kembali terjadi kepada seorang warga Begulda Mesti Bangun (52) yang diserang sekelompok Pemuda diduga orang suruhan pengusaha galian c ilegal, Kamis (12/01) sekira 07.00 Wib.

Korban Meski Peranginangin mengalami luka bacok di bagian kepala dan langsung melaporkan kejadian yang dialaminya itu ke Polres Binjai di dampingi puluhan warga Begulda lainnya.

Ternyata keberadaan korban di Mako Polres Binjai diamati seorang krabat pengusaha Galian C inisial Dejon ke Polres Binjai dengan menggunakan sebuah mobil yang didalamnya tersimpan sebilah Senjata Tajam (Sajam).

Hal itu diketahui warga seusai membuat laporan, warga yang mengetahui kehadiran Dejon sempat terjadi keributan dan melihat senjata tajam didalam sebuah mobil yang ditumpangi Dejon.

Mobil brio berwarna merah tersebut terpakir di halaman Polres Binjai. Spontan puluhan warga Begulda berteriak-teriak, meminta tolong kepada Polisi agar mengamankan kendaraan yang membawa senjata tajam tersebut.

Melihat reaksi dari puluhan masyarakat Begulda, Dejon langsung pergi meninggalkan Polres Binjai, dijemput dengan kendaraan mobil lainnya. Warga Begulda mencoba menghadang mobil yang dikendarai Dejon. Namun upaya itu dihalangi dari Pihak Kepolisian Polres Binjai.

Kemarahan puluhan masyarakat Begulda tak terbendung lantaran beranggapan pihak Kepolisian Polres Binjai berpihak kepada Dejon yang disebut-sebut sebagai mafia tanah tersebut.

Situasi pun meluai ricuh, masyarakat meneriaki Polisi " Polisi apa kalian, mau kalian terjadi Binjai berdarah lagi. Kalian Polisi Republik Indonesia. Kalian bukan Polisi Dejon, " teriak warga.

Puluhan masyarakat Begulda juga menyebut Polisi Polres Binjai sama seperti Sambo.

 " Mafia galian C, mafia tanah, dan Bandar Narkoba yang kalian bela-bela. Kami ini juga butuh keadilan, " teriak seorang wanita sembari meneteskan air mata.

Guna meredam kemarahan masyarakat Begulda, anggota Sat Reskrim Polres Binjai langsung mengamankan satu buah senjata tajam dari mobil brio berwarna merah tersebut.

Belum ada keterangan resmi dari Pihak Kepolisian Polres Binjai. Kasi Humas Polres Binjai Iptu Junaidi, ketika dikonfirmasi Kamis (11/01) malam, belum bisa memberikan jawaban. Sampai berita ini dikirimkan ke redaksi puluhan masyarakat Begulda masih bertahan di Polres Binjai untuk menuntut keadilan.

Terpisah, Menurut korban Meski Peranginangin, dirinya mengalami penganiayaan  pada saat iakan mengantarkan anaknya, inisial RK (12) pergi sekolah dengan mengendarai Sp. Motor. Diperjalanan korban dihampiri pelaku, saat itu pelaku memaki korban dengan kata-kata yang tidak pantas.

Mendengar makian tersebut, lantas korban menghentikan kendaraannya. Korban langsung dianiaya pelaku berinisial AG (40), dengan menggunakan skop semen. Akibat dari penganiayaan itu, korban mengalami luka robek dibagian kepalanya, dan telinga korban putus akibat terkena hantaman benda tajam.

Kejadian penganiayaan ini terjadi di Jalan Samanhudi, Kel. Bahkti Karya, Kec. Binjai selatan. Selanjutnya, korban dengan bersimbah darah langsung dibawa oleh warga setempat ke RSU Dr Djoelham Binjai, guna mendapatkan perawatan medis. Sementara itu, pelaku langsung melarikan diri usai menganiaya korban.

Lantas bersama istri korban langsung membuat laporan ke Polres Binjai, didampingi puluhan masyarakat Begulda. Pihak keluarga berharap agar Polres Binjai dapat menangkap pelaku penganiayaan terhadap suaminya.

Sebelumnya, Ratusan warga Begulda dengan mengendarai beberapa unit truk dan mobil jenis Pick Up serta beberapa unit Sepeda Motor, ratusan masyarakat dari Desa Beguldah, Tanjung Manggusta dan Namotembis, Kelurahan Tanah Merah, Kecamatan Binjai Selatan, menggelar aksi unjukrasa damai di depan Kantor Pemerintah Kota (Pemko) Binjai, yang beralamat di Jalan Jend Sudirman, Kecamatan Binjai Kota, Rabu (11/1) siang, sekira pukul 11.35 Wib.

Dengan membentangkan spanduk panjang berisi tuntutan mereka dan foto foto serta mengibarkan Bendera Merah Putih, orator aksi pun mulai menyuarakan tuntutannya dengan menggunakan pengeras suara berupa sound system.

"Sampai saat ini Walikota Binjai belum memberikan perhatian khusus kepada masyarakat Beguldah. Untuk itu kami kesini berharap agar Bapak Walikota Binjai dapat mendengarkan keluhan dan rintihan kami," ungkap Usrat Aminullah, orator aksi, seraya terus menyuarakan agar Walikota Binjai dapat menemui mereka.

Tidak hanya itu, lanjut warga lainnya, premanisme juga terus merajalela di Desa kami, namun tidak ada solusi yang dibuat untuk warga. "Apa pak Walikota sama sekali tidak punya hati nurani. Tuhan tidak tidur, Tuhan tidak buta. Selama 20 tahun kami menderita. Tolong dengarkan jeritan kami. Ini kantor rakyat, kami rakyat juga punya hak. Tapi mengapa bapak tidak menjumpai kami," tegas orator lainnya.

Walau terus dijaga oleh aparat Kepolisian dari Polres Binjai dan Satpol PP Binjai, namun para pengunjukrasa terus meminta agar Walikota Binjai dapat menemui mereka. "Kenapa sekarang bapak tinggalkan kami. Padahal 80 persen suara kami untuk bapak pada Pilkada lalu. Rakyat jangan ditindas, sudah 20 tahun kami menderita dan sengsara. Kami ini masyarakat Binjai," seru para pengunjukrasa.

Tidak hanya itu, para pengunjukrasa juga kembali meminta Walikota Binjai agar turun kelokasi galian C yang berada di Kelurahan Tanah Merah.

"Turun kelapangan langsung agar tau dampak dari galian C ilegal yang sudah 20 tahun beroperasi. Tangkap pengusaha galian C ilegal. Seban dengan adanya galian C tersebut, masyarakat tidak bisa lagi menanami sawahnya," ujar para pengunjukrasa.

Para pengunjukrasa juga meminta kepada Polres Binjai agar menangkap para pelaku kejahatan yang sudah menimpa masyarakat Desa Beguldah. "Kami sudah beberapa kali melaporkan tindakan premanisme ke Polres Binjai. Namun mengapa tidak ada satu orangpun yang ditangkap. Jangan pilih kasih. Apakah karena kami rakyat jelata," kata pengunjukrasa.

"Dulu bapak berjanji akan menutup galian C, tapi mana janji bapak. Begitu manisnya dulu bapak berjanji akan menutup galian C," ucap para pengunjukrasa.

Senada, perwakilan kaum ibu dalam orasinya kembali meminta kepada Walikota Binjai agar segera menemuinya.

"Kami rakyat kecil, tolong dengarkan hati nurani masyarakat kecil. Yakinlah, rakyat yang dizholimi selama 20 tahun, doanya insyaAllah akan di ijabah Allah SWT. Kami sudah terancam dengan adanya premanisme di Kota Binjai. Untuk itu kami mohon kepada bapak yang terhormat, tolong kami pak, Wali itu orangtua bagi kami, tolong temui kami dan kami minta penyelesaian atas permasalahan dan intimidasi yang kerap kami terima dari preman," ungkap perwakilan kaum Ibu.

Diakhir ucapannya, Usrot Aminullah meminta kepada Pemko Binjai agar segera melakukan normalisasi. "Terkait galian C ilegal, siapa yang menggali dan siapa yang mengeluarkan ijinnya. Perlu diketahui, ada oknum DPRD Binjai yang mempunyai lahan 20 hektar disana. Artinya syarat kepentingan," demikian kata Usrot Aminullah.

Setelah beberapa lama berorasi, akhirnya Sekda Kota Binjai H Irwansyah Nasution S. Sos, menemui para pengunjukrasa, sekaligus menyampaikan bahwa Walikota Binjai saat ini ada tugas di luar Kota.

"Dalam hal ini tentunya aspirasi dari masyarakat kita tampung. Kami tidak bisa membuat keputusan sendiri. Ada forkopimda. Kami juga tidak bisa berbuat tanpa adanya dukungan dari masyarakat," demikian ucap Sekda Kota Binjai, seraya menerima IDI tuntutan dari pengunjukrasa.

Berikut isi tuntutan rakyat Beguldah, Tanjung Manggusta dan Namotembis, Kelurahan Tanah Merah, Kecamatan Binjai Selatan :

1. Tertutupnya mata hati Pemko Binjai yang tidak mampu/sanggup menuntaskan lahan konflik di Beguldah, Tanjung Manggusta dan Namotembis, di Kelurahan Tanah Merah, Kecamatan Binjai Selatan

2. Sampai saat ini galian C ilegal masih beraktifitas walaupun secara manual. Untuk itu kami minta kepada Walikota Binjai agar segera menindak tegas pemilik/pengusaha galian C tersebut

3. Tangkap pemilik galian C ilegal dan penjarakan

4. Reklamasi galian C ilegal yang sudah merugikan rakyat Beguldah, Tanjung Manggusta dan Namotembis

5. Ganti rugi lahan persawahan 100 Ha milik rakyat Beguldah, Tanjung Manggusta dan Namotembis akibat galian C ilegal selama 20 tahun yang mengakibatkan sawah milik warga tidak bisa lagi ditanami padi

6. Kapolres Binjai/Kasat Serse, tangkap pelaku otak kerusuhan/penyerangan kepada masyarakat Beguldah

7. Kasat Serse, tangkap para pelaku yang sudah dilaporkan di Polres Binjai

8. Kapolres Binjai, tangkap Bandar narkoba yang sudah merusak mental dan masa depan anak anak Kota Binjai

9. Jangan narkoba dijadikan mata pencaharian untuk mendapatkan yang

10. Kapolres Binjai, tutup dan tindak sesuai hukum fasilitas hiburan yang dijadikan transaksi peredaran narkoba di Kota Binjai

11. Kapolres Binjai, berikan rasa aman kepada rakyat Beguldah, Tanjung Manggusta dan Namotembis.

(Red)

Berita Lainnya

Index